Pengaruh Astronomi India dalam Astronomi Islam
Di bawah kekhalifahan Al-Mansur dan Al-Ma’mun pada abad kedelapan dan awal abad kesembilan M, orang-orang Arab Islam mengenal astronomi India. Pada masa itu, mereka memperoleh pengetahuan tentang tiga sistem astronomi India (Tarikhu’l hukma, atau Bibl. Arab. Phil oleh Casiri: Bibl. Arab. Hisp. 426); salah satunya berjudul Aryabhatta, Arabnya Arjabahar (maksudnya Arjabhar) yang cukup intens dikaji.
Diduga, perkenalan orang-orang Arab Islam dengan astronomi Hindu, yaitu pada saat Khalifah al-Mansur mengunjungi astrolog dan matematikawan Hindu, dan ketika India menentukan gerakan rata-rata planet yang merupakan prinsip dari tabel-tabel astronomi yang disusun oleh astronom Arab atas perintah para Khalifah, yang berguna sebagai petunjuk tentang bintang-bintang, dan ketika risalah tentang Ilmu Bilangan India yang menjadi bagian dari sistem bilangan Arab; juga menekankan tentang kesulitan mendapatkan lebih jauh ilmu-ilmu India, dimana seorang penulis Tarikhu’l hukma mengeluhkan jarak antar negara, dan aneka macam kesukaran dan rintangan dalam berinteraksi.
Aryabhatta yang merupakan karya dari Brahmagupta, sampai ke Arab pada abad ke tujuh M. Sementara Varaha-Mihira telah mengkaji sejak abad keenam masehi untuk karya astrologi. Tiga kajian astrologinya terbagi dalam tiga bagian: satu tentang astronomi, dua lainnya telah KeIlahiyahan. Sumbernya juga berasal dari penulis kuno Sanhita, dan berisikan tiga bagian Scand’has:
- mengajarkannya untuk menemukan kedudukan planet-planet melalui komputasi (ganita), yaitu teknik tantra.
- mengetahui petunjuk tentang keberuntungan dan ketakberuntungan dengan teknik hora; terkait dengan suku bangsa, perjalanan, dan pernikahan.
- mengetahui relativitas prognostik terhadap aneka macam materi. Ia membuat karya tentang petunjuk pergerakan planet, terbit dan terbenamnya, dll yang diistilahkannya sebagai Carana, yang diartikan sebagai tanda-tanda ‘ilmiah’, dalam gabungan karyanya berjudul Pancha-sidd’hantica.
Varaha-Mihira berkebangsaan Ujjayani, anak Adityadasa. Menjelang hingga awal abad ketujuh M, ia menguatkan konsep astrologinya dengan mengkaji karya Panchatantra, dongeng-dongeng perumpamaan (fabel) dari Pilpay, langsung dari sanskrit asli, yang diterjemahkan oleh Raja Persia Nushrivan.
Karya berjudul Surya-sidd’hanta, yang sama dengan istilah Saura (Solar = Matahari) sidd’hanta, berasal dari Varaha-Mihira dan Brahmagupta. Namun pada saat itu, lebih dari satu risalah astronomi memiliki judul Surya (sinonim dengan Sun = Matahari).
Bagi Lachsmidasa, judul Vrihat surya-sidd’hanta, bertentangan dengan risalah astronomi lain yang sering dikutipnya dengan tetap memberikan judul Vrihat. Nantinya, kutipan-kutipannya dibuktikan kebenarannya. Sebuah rujukan Bhascara tentang kata “Saura”, atau, sebagaimana dijelaskannya dalam upaya memberikan keterangan dalam Surya-sidd’hanta, bahwa ia tidak setuju dengan teks yang ada di dalam Surya-sidd’hanta. Komentar-komentarnya tidak bermaksud secara langsung menyimpulkan dari jurang perbedaan antara karya yang dikutip, dan biasanya diterima dari judul karya yang sama. Semua kutipan dari Vrihat-sur-sidd’hanta dalam Ganita-tatwa-chintamani Lachsmidasa, membuktikan keraguan yang ada, bahwa pendapat komentator dan kedalaman pengetahuannya, menunjukkan orang yang sama.
Fakta yang diperoleh para penulis Arab Islam, bahwa sebuah sistem astronomi memiliki judul yang setara dengan Solar atau Surya, yaitu Arca, sama-sama istilah dari Hindu, yang ditemukan ketika orang-orang Arab sedang giat mengkaji pengetahuan astronomi India pada zaman Khalifah Abbasiyyah, sekitar abad ke-8 atau 9 masehi. Arcand, sebuah nama yang diberikan orang Arab Islam untuk merancang tiga sistem astronomi, menyusunnya dengan istilah India, dengan dialek mirip dengan Arca, dan sehari-hari dikenal sebagai sebuah pohon (Asclepias Gigantea) yang sinonim dengan matahari, yaitu vulgarly Acand, atau Arcand.
Doktrin solar kemudian muncul dari astronom Arab, sebagai salah satu dari tiga sistem astronomi India yang sudah ada sejak ribuan tahun lalu. Faktanya di sini, judul dan sistemnya lebih kuno. Maka perbaikan-perbaikan sistem pun dilakukan; seperti perbaikan yang dilakukan Brahmagupta atas Brahma-sidd’hanta agar lebih beradaptasi dengan kondisi zaman; atau, dengan kata lain, sebagaimana Brahmagupta katakan, untuk tujuan kesesuaian komputasi dan observasi. Surya atau Arca-sidd’hanta, tidak diragukan lagi, mengalami proses sedemikian, hingga layak dijadikan rujukan bagi pengkaji astronomi.
Dalam setiap pandangan, dianggap, bahwa pertanyaan apapun terkait zaman keberadaan teks Surya-sidd’hanta, akan meninggalkan bukti tak tersentuh akan zaman penulis karya Vrihat-sanhita, yaitu Varaha-Mihira, anak seorang astrolog Ujjayani bernama Adittyadasa, yang muncul jelang abad ke-5 atau abad ke-6 masehi. Tampaknya, namanya sama dengan penulis astrologi yang juga tinggal di Ujjayani pada abad ke-2 masehi. Pada abad ke-3, pada zaman Raja Bhoja-Deva dari Dhara, kajiannya mengalami kemajuan. Ia memiliki murid bernama Satananda, seorang penulis Bhasvati.
Kemajuan dan Keahlian Orang-orang Arab dalam Aljabar
Pada masa kekhalifahan Abbasiyyah kedua, yang dipimpin oleh Khalifah al-Mansur, yaitu pada tahun 156 H atau 773 M, awal mula terjadi kajian keilmuwan dari pelbagai khazanah bangsa, budaya, dan agam oleh para orang Arab Muslim. Pada tahun 308 H (920 M), pendahuluan tabel-tabel Astronomi karya Ben al-Adami dipublikasikan oleh penerusnya, Alcasem (Al-Kasim), seorang astronom India sangat berpengalaman dalam bidang keilmuwan yang digelutinya. Ia mengunjungi instana Khalifah al-Mansur, membawa bersamanya tabel-tabel berisikan persamaan-persamaan planet yang merujuk pada pergerakan rata-rata, dengan observasi yang saling berhubungan antara gerhana matahari dan bulan, dan kemunculan tanda-tandanya; dinyatakannya, bahwa tabel-tabel tersebut dihitung dan disusun oleh seorang pangeran India bernama Phighan.*belum selesai.
[20 Maret 2015 pukul 17.28]
Dwi Afrianti
Gambar: Brahmagupta
Gambar: Brahmagupta
No comments:
Post a Comment