Kedudukan Dialektika (diskusi dengan merenung) di dalam Debat (Jadaal, Berbantah) dan Diskusi (Syuroo, Musyawarah)
Sekedar untuk mengidentifikasi diri ketika sedang ‘ngobrol’. Kita masuk ke dalam kategori sedang berdebat (jadaal) atau berdiskusi (syuroo)?
Karena kalau sedang berdebat, segera tinggalkan.
Rasulullaah Saw. bersabda, “Aku berikan jaminan rumah di dasar surga bagi orang yang meninggalkan debat (jaadal) meskipun dia berada dipihak yang benar. Dan aku menjaminkan sebuah rumah di tengah surga bagi orang yang meninggalkan dusta meskipun dalam keadaan bercanda. Dan aku akan menjamin sebuah rumah dibagian teratas surga bagi orang yang membaguskan akhlaknya.” (HR. Abu Dawud)
Rasulullah Saw., “Sesungguhnya orang yang paling dimurkai oleh Allah ialah orang yang selalu mendebat.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Allah berfirman, Swt. “Serulah(manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah (jaadal) mereka dengan cara yang baik.” (QS. an-Nahl [16] : 125)
Lalu, apakah yang dimaksudkan dengan diskusi atau musyawarah? Di dalam al-Quran, terdapat satu surat yang diberi nama dengan asy-Syuroo [42] (musyawarah). Berdiskusi atau bermusyawarah menjadi salah satu dari dasar-dasar pemerintahan Islam. Keberadaannya termaktub di sila keempat dari Pancasila, yaitu Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan.
Nah, sekarang, apakah yang dimaksud dengan Dialektika?
Dua orang yang sedang melakukan percakapan, keduanya memiliki dua pemikiran yang berbeda. Masing-masing memiliki tesis. Di sini subjek “Aku (being)” dikedepankan. Ketika sedang ngobrol, apakah masing-masingnya mengalami pengolahan pemikiran lawan bicaranya, dan juga mengolah kembali pemikiran sendiri, sehingga terjadi antitesis? Masing-masing “Aku” sedang mencari kesetimbangan (becoming). Lalu selanjutnya, adakah kedua pemikiran saling berkolaborasi yang lalu membentuk kesatuan; pengurangan penambahan ide/ gagasan, sehingga terbentuk suatu sintesa? Di sini “Aku” sudah hilang, melebur bersama “Aku” yang lain menjadi “Kami”, sehingga “Aku” menjadi nothing.
Lalu, apa hubungannya antara debat, dialektika, dan diskusi?
Keberadaan dialektika menjadi ukuran dari apakah suatu pembicaraan itu masuk kepada debat atau diskusi.
Debat tak ada dialektika (perenungan), baik merenungi (tafakur) pemikiran orang lain maupun pemikiran sendiri. Dalam merenungi pemikiran orang, pasti juga melibatkan interaksi dengan pemikiran sendiri. Di sini tak ada proses pembelajaran.
Sebaliknya pada diskusi. Ada pembelajaran di sini. Ada saling konfirmasi pemikiran. Ada pemikiran baru yg saling berkolaborasi dengan yang lama.
Jadi ketika kita sedang ngobrol terjadi dialektika, maka lanjutkan obrolannya.
Ya, berdialektika telah menjadi persyaratan dari terbentuknya sebuah jalur transmisi keilmuan sejak Mesoptamia, Babilonia, Mesir, India, Cina, Yunani, Persia, Yahudi, Kristen, Zoroaster, sampai ke Muslim, hingga di masa modern ini, yang membentuk sebuah peradaban besar. Baik berdialektika dengan diri sendiri maupun orang lain.
No comments:
Post a Comment