Thursday, September 17, 2020

 Sejarah dan Filsafat Matematika Islam





Para Muslim tertarik kepada matematika bukan dikarenakan matematika mampu memecahkan masalah kehidupan sehari-hari saja; di antara para filsuf dan intelektual bidang lain, begitu tertarik dengan konsep-konsep Pythagoras yang menjadi bagian dari warisan intelektual mereka. Mereka tertarik dengan teori bilangan, memaknai bilangan-bilangan sebagai sesuatu yang nyata, mengeksplorasi pangkat-pangkat magis dan hubungannya dengan bilangan-bilangan dan huruf-huruf – semua kegiatan tersebut memberikan matematika Islam sebagai sesuatu yang misterius dan mistis, yang berkembang ke area semacam alkemi dan magis. Bahkan perkembangan filsafat Plato dipengaruhi oleh filsafat matematika nya Pythagorassehingga gerbang akademi yang dibangun dan dipimpinnya selama 40 tahun bertuliskan "Dilarang Masuk Mereka yang tidak Berpengetahuan Geometri". Matematika sendiri artinya Giat Belajar.
Perkara-perkara harian yang diaplikasikan orang Islam ke dalam matematika, berkembang dalam banyak cakupan dan kompleksitas sebagaimana perkembangan sains dalam peradaban Islam itu sendiri. Penggunaan aritmetik, sehari-harinya begitu penting dipergunakan untuk penghitungan zakat yang wajib dikeluarkan oleh setiap muslim seperti yang sudah diatur dalam al-Quran. Prinsip-prinsip dan definisi-definisi mendasar matematika, yang berasal dari Yunani, diberi penjelasan oleh para matematikawan Muslim dengan cara yang bisa membuat orang lain gampang memahami hubungan-hubungan antar bilangan dan mengefisiensikan penggunaannya dalam segala jenis penghitungan.
Awalnya, notasi angka sexagesimal mendominasi, tapi lalu diganti menjadi bilangan desimal, yang menjadikan penghitungan rumit menjadi lebih gampang. Sementara itu, dalam rangka pengembangan operasi-operasi aritmetik, matematikawan Muslim menambah bilangan-bilangan irasional dan riil dan pecahan-pecahan yang diwariskan dari Yunani.Geometri Muslim diturunkan langsung dari serangkaian prinsip-prinsip Euclid, dan menunjukkan pengaruh India di dalamnya. Pada abad ke-9 M di Baghdad, Banu Musa bersaudara (tiga bersaudara laki-laki), matematikawan dari para matematikawan lainnya, menyelidiki persoalan-persoalan dalam membangun inter-relasi figur-figur geometris. Studi tentang konsep titik, garis, dan ruang begitu intensif baik dalam lingkup matematika dan filsafat. Begitu paham dan menemukan, para ilmuwan langsung mengaplikasikan ilmunya, menggunakan geometri di manapun dibutuhkan: pengukuran lahan, mendesain aneka jenis roda termasuk kincir air dan sistem-sitem lain untuk menggerakkan air, dalam melengkapi keperluan pertanian dan perkebunan, dan, tidak terlupakan, termasuk perlengkapan perang semacam ketapel dan panah berujung silang. Pekerjaan teoritis yang luar biasa.
Matematikawan abad ke-11 M, ibn al-Haytham, menyelidiki persoalan isometrik, penggambaran figur-figur dengan menggambarkan semua tepi dengan panjang kebenaran relatif, yaitu tanpa adanya distorsi cara pandang dimensi. Ibn al-Haytham dan matematikawan lain seperti Thabit ibn Qurra dan Nasir al-Din al-Tusi, juga Omar Khayyam (yang lebih dikenal sebagai penulis puisi daripada seorang saintis), mendedikasikan diri untuk membuktikan Postulat Kelima Euclid: Jika sebuah garis lurus memotong sepasang garis lurus dan menghasilkan dua sudut yang sama sisi; paling tidak, masing-masingnya akan memperoleh sudut sebesar sembilan puluh derajat. Kompleksitas dari Postulat Kelima memberikan motivasi bagi matematikawan Muslim untuk sampai kepada pembuktian-pembuktian lain – termasuk membuktikan teori-teori dari mereka yang kontra dengan Euclid. Tidak butuh waktu yang lama, pada abad pertengahan ( 7 M – 14 M), para saintis Muslim memahami kepentingan untuk mendefinisikan secara jelas dengan sederhana maksud sebenarnya dari geometri Euclid. Dan tanpa mereka sadari, mereka malah telah ke luar dari apa yang dimaksudkan Euclid. Mereka malah menemukan sesuatu yang baru, dan dengan begitu, mereka pun otomatis telah menjadi bagian dari non-Euclidian.Secara umum, matematikawan Islam mengisi waktu-waktu berharga dengan melakukan usaha-usaha: meluaskan manfaat matematika dalam banyak bidang sains, menjadikan lebih terstruktur, menyempurnakan, dan menjadikan lebih gampang dipahami, warisan khazanah pengetahuan dari Babilonia, India, dan Yunani kuno.
Aljabar sendiri, pada abad ke-8 M, oleh seorang matematikawan al-Khwarizmi, banyak melakukan perbaikan di sana-sini. Al-Khwarizmi mengambil khazanah pengetahuan matematika (juga bidang lainnya: astronomi, geografi, cartography, musik) dari pelbagai bangsa. Al-Khwarizmi tidak hanya mengubah bilangan-bilangan Babilonia dan Hindu menjadi lebih simpel dan terpakai sehingga bisa bermanfaat untuk siapa saja, namun beliau juga menemukan konsep yang sama sekali baru dari sana, yaitu aljabar dan algoritma, berikut konsep-konsep lain yang menyertainya. Aljabar, menandakan pemindahan tempat (transposisi) – suatu kondisi untuk mengembalikan keseimbangan (muqabala) atau equilibrium – melalui menambah atau mengurangi kuantitas yang sama pada sisi-sisi sebuah persamaan (equation); terkait dengan aktivitas tersebut, yaitu mereduksi atau menyederhanakan dan mengkombinasikan istilah-istilah yang bersesuaian. Istilah algoritma sendiri berasal dari nama Latin al-Khwarizmi, yang menunjukkan penghitungan sistematik apapun atau sistem dari langkah demi langkah istruksi bagi problem solving atau pengokohan beberapa tujuan.
Aljabar al-Khwarizmi mencakup suatu demonstrasi posisional matematika dan contoh-contoh persamaan yang jelas, juga prinsip-prinsip dari akar paangkat dan operasi-operasi mendasar lainnya. Untuk mengenali kemampuan-kemampuan persamaan dalam menggambarkan kompleksitas hubungan-hubungan melalui pembentukan keseimbangan-keseimbangan, dan untuk mendefinisikan faktor-faktor yang tidak diketahui, menggunakan simbol seperti x, al-Khwarizmi membuka pintu selebar-lebarnya untuk menghasilkan prosedur-prosedur matematika yang bermanfaat bagi abad-abad selanjutnya. Sumbangan aljabar sangat besar. Barangkali, perbedaan paling penting antara aljabar muslim abad pertengahan dengan masa kita sekarang ini adalah dalam bentuk simbol yang dituliskan. Aljabar dahulu dituliskan dengan kata-kata, bukan angka-angka atau bilangan, lalu dikembangkan, diubah ke dalam bentuk angka-angka.
Begitu juga trigonometri, merupakan karya substansial dari orang Islam, terutama diperlukan dalam studi tentang pesawat udara dan segitiga langit. Memberikan dorongan besar sebagai sebuah disiplin yang digunakan oleh para astronom yang mendedikasikan dirinya kepada titik-titik peta langit. Fungsi-fungsi trigonometri, melibatkan rasio-rasio seperti sinus dan cosinus, tangen dan cotangen, dikembangkan dan disempurnakan dalam peradaban Islam; Orang-orang Islam menempatkan kembali sistem chord-chord (garis lurus sebagai hasil dari penggabungan titik-titik pada sebuah kurva) Yunani kuno, menjadikannya sebagai metode yang lebih sederhana dan gampang untuk memecahkan permasalahan-permasalan kompleks terkait segitiga langit.
Para matematikawan Islam, tidak hanya mengkaji dan berkarya di bidang matematika saja, juga dalam area sains yang lain. Selain seorang matematikawan, al-Khwarizmi juga seorang astronom dan geografer, yang juga membahas musik. Ibn al-Haythm, seorang matematikawan yang juga seorang astronom dan ahli optik. Abu Rayhan al-Biruni, selain menggeluti matematika, juga seorang filsuf, sejarawan, astronom, farmakolog, botanis, geologis. Al-Biruni juga menerjemahkan karya Euclid ke dalam bahasa Sansekerta dan menghitung keliling dan radius bumi dengan akurasi yang tidak jauh dari pengukuran yang dilakukan kembali pada zaman modern ini. Zaman-zaman sejarah yang ditandai oleh kebudayaan penting tertentu yang membantu menghidupkan dan mengembangkan potensi-potensi luar biasa para saintis dan seniman.
Kata Pengantar al-Khwarizmi dalam Kitab al-Jabr wa'l Muqabbalah:
Alhamdulillah atas limpahan karunia-Nya kepada mereka yang berhak menerima
dikarenakan perbuatan baik yang telah mereka lakukan.
Dia mengutus Muhammad saw. dengan tugas sebagai seorang
nabi, setelah banyak utusan Allah lainnya datang,
ketika keadilan telah diabaikan, ketika jalan kehidupan yang benar dicari-cari.
Lewat Nabi Muhammad saw., Allah menyembuhkan kebutaan, menyelamatkan dari
keruntuhan, dan membesarkan apa yang sebelumnya kecil, dan mengumpulkan
apa-apa yang sebelumnya tercerai berai.
Subhanallah
Alhamdulillaahi Rabbil ‘aalamiin
Laa ilaaha illa Allah
Allahumma sholi ‘ala Muhammad wa ‘ala aalihi Muhammad.
Pembelajaran dijalankan melalui waktu-waktu lampau,
dan aneka bangsa memberikan kontribusinya ke dalam buku
sains dan aneka cabang pengetahuan ini,
menjadi petunjuk bagi arah berpikirku yang datang setelah mereka,
dan mengambil manfaat yang proporsional dari mereka,
dan mempercayai daya upaya mereka, yang saya akui,
perhatikan, dan diingat –sekecil apapun itu.
Kecil, jika dibandingkan dengan kepedihan yang pernah mereka alami
dan kesulitan-kesulitan yang mereka temukan dalam
membuka rahasia-rahasia dan ketidakjelasan sains.
Beberapa mereka aplikasikan sendiri untuk memperoleh informasi
yang belum diketahui oleh orang-orang sebelum mereka,
dan mewarisinya untuk anak cucu mereka;
lainnya memberikan komentar
atas kesulitan-kesulitan pekerjaan sains yang diwariskan oleh pendahulu mereka,
dan mendefinisikan metode terbaik untuk mempelajarinya,
atau menyumbangkan jalan termudah bagi keberadaan sains,
atau penempatannya pada bidang studi lainnya;
lainnya menemukan kembali kesalahan-kesalahan dalam karya sebelumnya dan
memperbaikinya, atau menyesuaikan diri terhadap ketidakteraturannya
dan mengkoreksi kesalahan-kesalahan sebelumnya,
tanpa sama sekali adanya arogansi kepada terdahulu
dan tiada merasa bangga atas apa yang telah mereka lakukan.
Allah telah mengagungkan Imam al-Makmun,
seorang yang memiliki minat besar terhadap pengembangan sains,
seorang Pemimpin dari orang-orang mukmin (disamping kekhalifahan yang Dia amanatkan
untuk memerintah berdasarkan garis keturunan, di dalam jubah yang Allah simpan baginya, dan
dengan kehormatan-kehormatan sebagai perhiasan yang Dia kenakan baginya),
dan dengan kebaikan serta perlindungan yang diberikan kepada para masyarakatnya,
menjadi teladan bagi orang lain; kesiagaan dalam perlindungan dan dukungan yang
diberikannya kepada masyarakatnya dan menghapuskan kesulitan-kesulitan,
Khalifah al-Makmun telah mendorong saya untuk menyusun sebuah karya pendek tentang
penghitungan dengan menggunakan (hukum-hukum) Penyelesaian dan Pengurangan, dan
membatasinya menjadi aritmetika yang paling mudah dan paling bermanfaat seperti yang
manusia selalu butuhkan dalam urusan warisan, pembagian, tuntutan hukum, perdagangan,
dan semua perkara yang berhubungan dengan orang lain, atau ketika mengukur lahan,
penggalian kanal, perhitungan geometris,dan berbagai macam manfaat lainnya.
Dengan maksud yang baik, dan pengharapan akan manfaat dari karya ini, dan, karya ini tak kan bisa diselesaikan tanpa disertai doa-doa mereka semua kepada Ilahi Rabbi: semoga Allah mengganjar mereka dengan keberkahan dan karunia yang melimpah. Saya bersama-Nya selalu, di dalam segala sesuatunya, dan di Dalam-Nya saya beriman. Dia Rabb al-‘Arsy, berkah-Nya atas para nabi dan utusan bagi para jiwa.”
24 April 2014, Pk. 16.20

Sejarah Angka Arab



Penggalian arkeologis di Mahenjo Daro memberikan bukti tentang sebuah peradaban tua dan berbudaya tinggi di India selama zaman pembangunan piramida Mesir, tapi tidak ditemukannya dokumen-dokumen matematika India dari zaman setelah negara itu dikuasai oleh bangsa Arya, yaitu bangsa yag memperkenalkan sistem kasta dan mengembangkan sastra Sanskrit. Seorang guru besar, Buddha, yang hidup sezaman dengan Pythagoras, mengatakan bahwa Pythagoras pernah berkunjung ke India dan menemukan teorinya dari Hindu. Ditemukan juga, bahwa teori tersebut telah 1000 tahun lebih dulu familiar di Babilonia.

Kejatuhan kekaisaran Romawi Barat terjadi pada tahun 476 M, tahun seorang penulis teks-teks matematika India, Aryabhata lahir. Bagaimanapun, cukup banyak aktivitas matematika di India sebelum masa-masa ini – bahkan sebelum ditemukannya wacana mistis di Roma pada tahun 753 SM. India, seperti halnya Mesir, memiliki “tali peregang”; dan dongeng geometrik primitif menghasilkan hubungan antara pembangunan kuil-kuil dan pengukuran dan pembangunan altar-altar yang mengambil banyak dari sebuah tubuh pengetahuan yang dikenal sebagai Sulvasutras, atau “aturan-aturan tali menali.” Sulva (atau sulba) merujuk pada tali temali yang dgunakan untuk pengukuran-pengukuran, dan suutra bermakna sebuah buku aturan-aturan atau aforism-aforism terkait sebuah ritual atau ilmu. Peregangan tali, sangat mengingatkan pada asal muasal geometri Mesir, dan terkait dengan fungsi-fungsi kuil sebagai asal muasal dari jalan pemecahan yang ada di dalam matematika. Bagaimanapun, kesulitan penanggalan aturan-aturan juga dipasangkan dengan pengaruh para matematikawan Hindu nantinya. Bahkan lebih daripada itu, kasus yang terjadi di Cina, sangat kurang memiliki ketersambungan dengan tradisi matematika India.
Sulvasuutras
Ada tiga versi, kajian yang menunjukkan Sulvasuutras yang dikembangkan, yang terbaik dikenal dengan nama Apastamba. Dalam data primitif ini, penanggalan yang barangkali sama dengan ketika adanya Pythagoras, ditemukan aturan-aturan pembangunan segitiga siku-siku dalam arti panjang tali temali dalam bentuk triad Pythagoras seperti 3, 4, 5 atau 5, 12, a3, atau 8, 15, 17, atau 12, 35, 37. Bagaimanapun, semua triad itu berasal dari aturan Babilonia kuno; meskipun, pengaruh Mesopotamia dalam Sulvasuutras tidak disukai. Apastamba mengetahui, bahwa empat persegi pada diagonal sebuah persegi panjang sama dengan jumlah empat persegi pada dua sisi berdekatan, tapi bentuk dari teorema Pythagorean ini barangkali juga berasal dari Mesopotamia. Sedikit penjelasan dari Apastamba – tentang aljabar geometri dalam Buku II Euclid’s Elements.
Masih bersifat dugaan tentang sumber dan masa kemunculan Sulvasuutras, apakah berasal dari Mesir awal ataukah Yunani. Beraneka macam sumber yang menyatakan penanggalannya, berjarak hingga ribuan tahun dari abad kedelapan SM hingga dua M. Kronologi dalam budaya-budaya kuno Timur Jauh sangat reliable, ketika tradisi Hindu ortodoks mempublish kajian astronomi penting lebih daripada 2 juta tahun lalu dan ketika kalkulasi-kalkulasi memimpin milyaran hari sejak kehidupan Brahman pada tahun 400 M. Serangkaian sumber-sumber aritmetika dan geometrika dalam literatur Vedic pada tahun 2000 SM, barangkali reliable, tapi tidak terdapat data-data dari India untuk membuktikannya.
Siddhaantas
Masa Sulvasuutras, sekitar abad kedua masehi, lalu masa Siddhaantas, atau sistem-sistem astronomi. Kemunculan dinasti Raja Gupta (290 M) menandai awal kebangkitan kebudayaan Sanskrit, dan Siddhaantas memiliki lima versi, yaitu Paulisha Siddhaanta, Suurya Siddhaanta, Vasisishta Siddhaanta, Paitamaha Siddhaanta, dan Romanka Siddhaanta. Suurya Siddhanta (Sistem Matahari) ditulis pada tahun 400 M, satu-satunya versi yang paling lengkap dikembangkan. Berdasarkan teks tersebut, ditulis dalam syair kepahlawanan stanzas, tentang tindakan Suurya, Matahari Tuhan. Doktrin astronomi utama, terbukti dari Yunani, tapi dengan bait-bait cerita rakyat Hindu. Paulisha Siddhaanta, ditulis pada tahun 380 M, sebuah ringkasan yang ditulis oleh seorang mtematikawan Hindu Varahamihira (505 M) dan sangat sering dijadikan rujukan oleh seorang intelektual Arab al-Biruni, yang juga sering merujuk kepada sumber asli Yunani. Para penulis lain nantinya melaporkan, bahwa pernyataan substansial dalam Siddhaantas hanya dalam aneka ragam phraseology (penyusunan kata-kata); karenanya, kita bisa mengasumsikan bahwa yang lain, seperti Suurya Siddhaanta, kumpulan dari perbandingan aturan-aturan tak jelas astronomi dalam bahasa Sanskrit, hanya dapat memberikan penjelasan yang minim dan tanpa bukti.
Secara umum, disepakati bahwa Siddhaantas dikaji dari akhir abad keempat atau awal abad kelima, tapi ada ketidaksepakatan tajam, tentang keaslian pengetahuan di dalamnya. Para intelektual Hindu merasa konsep Siddhantas original, sementara para penulis Barat melihat tanda-tanda pasti dari pengaruh Yunani. Tidak seperti, sebagai contoh, bahwa Paulisha Siddhanta berasal dari pengukuran yang dilakukan oleh seorang astrolog bernama Paul yang tinggal di Aleksandria tak jauh sebelum tanggal penyusunan Siddhaantas. Kenyataannya, secara eksplisit al-Biruni menghubungkan Siddhaanta dengan Paul dari Aleksandria. Terdapat kemiripan antara Siddhaantas dengan trigonometri dan astronomi Ptolemy. Contohnya, Paulisha Siddhaanta menggunakan nilai 3 177/ 1250 untuk phi, sedang Ptolemaic sexagesimal bernilai 3; 8,30.
Matematika India; Ketika Pythagoras dan Aristoteles menolak Angka Nol, al-Khwarizmi menemukan Angka Nol di India
Bahkan jika orang-orang Hindu menghasilkan pengetahuan trigonometri mereka dari kosmopolitan Hellenism di Aleksandria, tapi material di tangan mereka benar-benar dalam sebuah bentuk baru. Sementara trigonometri Ptolemy memiliki dasar dari hubungan fungsional antara (chrods) tali-tali atau penghubung dua titik lingkaran dan sudut-sudut pusat. Lalu muncul di India, penghulu dari trigonometri modern yang dikenal sebagai sinus dari sebuah sudut; dan pengantar fungsi sinus yang menggambarkan sumbungan besar Siddhantas terhadap sejarah matematika. Meskipun secara umum diasumsikan bahwa perubahan bentuk dari keseluruhan panjang tali kepada setengah panjang tali berasal dari India, dikatakan oleh Paul Tannery, seorang yang memimpin bidang sejarah ilmu pada abad ke 20, bahwa transformasi trigonometri tersebut barangkali terjadi di Aleksandria selama masa post-Ptolemaic. Apakah informasi itu memiliki manfaat atau tidak, pastinya tidak ada keraguan bahwa Siddhantas berasal dari Hindu, bukan Yunani, bahwa telah muncul penggunaan setengah panjang tali; dan kata “sinus” berasal dari jiva, bahasa Hindu.
11 Maret 2015, Pk. 20.05

Zoroasterism




 Zoroasterism adalah agama yang muncul sekitar abad 700 – 800 SM, dibawa oleh seorang nabi Persia bernama Zoroaster yang lahir di Khwarizm.

Zoroastrianism mengajarkan, bahwa hanya ada satu Tuhan, yaitu Ahura Mazda, Sang Pencipta segala sesuatunya. Keyakinan dasarnya, bahwa selama hidup, selalu terjadi peperangan antara ruh kebaikan dan ruh kejahatan, dan bumi dijadikan sebagai medan pertempurannya. Setiap orang karenanya harus berusaha untuk memiliki pikiran-pikiran, kata-kata, dan perilaku yang baik. Engkau dinilai atas bagaimana baiknya pertempuran yang membawa kematianmu.
Seperti konsep-konsep yang ada pada banyak agama besar saat ini, Zoroastrianism juga memiliki konsep penciptaan dunia, surga dan neraka, hari-hari suci, hari kiamat, dan hari kebangkitan.
Waktu dan tempat asal Zoroastrianism yang sebenarnya tidak diketahui dengan tepat, bahkan waktu kelahiran dan kematian Nabi Zoroaster, Zarathustra, tidak diketahui. Para sarjana mengira kehidupan Nabi Zarathustra sekitar 8 – 7 SM di Khwarizm.
Zarathustra menikah, memiliki empat anak, menjalankan kemisiannya pada usia 30 tahun, dan meninggal pada usia 77 tahun dengan cara dibunih oleh seorang yang dianggap nabi dalam agama pagan.
Pada abad pertengahan 20, seorang arkeolog dan orientalis Rusia, Sergei Tolstov, meneliti banyak monumen di hulu Amu Darya sejak milenium pertama kelahiran Zoroaster, menyimpulkan, bahwa agama Zoroaster berasal dari Khwarizm kuno. Hingga saat ini di seluruh bumi, ditemukan ada 63 monumen Zoroaster, terdapat di Iran, India, Afghanistan, dan Pakistan. Sebanyak 38 ada di Uzbekistan, dengan 17 monumen berlokasi di Khwarizm (sekarang, Khiva).
Penganut agama Zoroaster meyakini, bahwa Nabi Zarathustra menerima kesempurnaan kebenaran, atau penyingkapan, dari Tuhan itu sendiri.
Zoroaster berkata, bahwa ia menyaksikan Tuhan Akhura Mazda. Beberapa merasakan kehadiran-Nya dan mendengarkan kata-kata-Nya. “Selama Dia berada di dalam kuasaku, aku akan mengajarkan manusia untuk mencari kebenaran.” Zoroaster mengajarkan aturan-aturan hukum, hak dan kewajiban, serta keadilan. Dia menyatakan hanya dirinya yang pernah mewujudkan tuhan yang menciptakan semua kebaikan, termasuk semua dewa kebaikan. Sementara, sebaliknya Tuhan Angra Manyu, yang menciptakan semua keburukan. Tuhan baik dan Tuhan buruk menjadi dua bagian di alam semesta yang menciptakan pasangan bertentangan, menjadi prinsip utama Zoroastrianism dan ide tentang pertempuran antara Kebaikan dan Kejahatan, Kebenaran dan Kebohongan, Cahaya dan Kegelapan.
'Kapan, wahai, Mazda, Kedamaian akan datang beserta Kebenaran dan Kekuatan, membawa kami pada kehidupan yang baik? Siapa yang akan menyelamatkan kami dari haus darah para pengikut Kebohongan? Biarkan para perampok dan pembunuh bertaubat dengan mengikuti aturan tentang kebaikan! Biarkan mereka memberikan kedamaian kepada keluarga mereka!'
Perintah melawan Kejahatan bukan hanya ditujukan untuk kekuatan-kekuatan alam, juga untuk setiap manusia. Nabi Zoroaster katakan, “Setiap manusia adalah ciptaan Tuhan.” Untuk menolong setiap pengikutnya mencapai kesempurnaan moral, Nabi Zoroaster juga merancang sebuah kode moral: hidup bersesuaian dengan pikiran-pikiran baik, kata-kata baik dan perilaku baik.
Berdasarkan filosofi ajaran agamanya, berikut proses dari sejarah terciptanya dunia: Akhura Mazda membuat sesuatu yang bersifat ruhani, lalu mewujud ke dalam dunia immaterial, kemudian memberikan bentuk kepada segala sesuatunya, yaitu sebuah tubuh jasmani. Kemudian mereka mampu menyaksikan dunia dengan semua indera.
Dengan menambahkan unsur materi kepada ruh, maka akan mendatangkan gangguan. Ruh jahat Angra Manyu, termaterikan juga dan menyerang dunia. Air laut dibuatnya menjadi asin, menciptakan gurun-gurun gersang, dan bahkan mencemarkan api suci dengan asap. Singkatnya, menyebabkan adanya efek buruk atau negatif atau bencana pada semua ciptaan Tuhan. Juga, penyebab rendahnya moral dan kelemahan manusia dalam menghadapi penderitaan. Maka, Tuhan memerintahkan kita untuk berperang melawan kejahatan.
Seorang Zoroastrian meyakini, bahwa selama kita hidup sekarang, tak ada yang sebenar baik dan sebaliknya, namun percampuran keduanya. Berdasarkan penyingkapan yang dialami oleh Zoroaster, manusia ditakdirkan untuk berperang melawan kejahatan dan memperbaiki dunia agar berada dalam kondisi sempurna. Kehendak baik akan memisahkan diri dari kejahatan, kejahatan pun akan hancur total. Lalu, laki-laki dan perempuan yang baik akan berada dalam keteraturan dan kedamaian absolut.
Para Zoroastrians meyakini, bahwa bencana terburuk manusia adalah kematian. Zoroaster mengajarkan, bahwa setiap jiwa dan ruh yang meninggalkan tubuh, akan diadili tentang apa-apa yang telah ia lakukan sepanjang hidupnya di dunia. Jiwa pun akan mendapatkan perlakuan sesuai berat timbangan apa yang telah dilakukannya selama di dunia. Semakin baik pikiran-pikiran dan perilakunya, semakin mudah menuju Surga. Jika timbangannya lebih berat kepada kejahatan, jiwa akan ke Neraka, yaitu masa-masa penuh penderitaan, duka cita, makanan buruk, dan penuh kesedihan mendalam.
Tetapi, bahkan di Surga pun, jiwa-jiwa tidak merasakan kesenangan yang sempurna hingga “Sang Dia” datang. Hari Kebangkitan akan menjadi Penghakiman terakhir, saat-saat dipisahkankannya orang-orang yang benar dengan para pendosa. Setiap metal di bumi akan meleleh dan membentuk sebuah aliran sungai. Semua orang harus menyebrangi sungai tersebut. Mereka yang diberkahi akan merasakan berjalan di dalam susu yang segar, sementara pendosa akan berjalan di dalam lelehan metal panas yang akan membawa mereka ke dalam neraka dan menghancurkan Angra Manyu dan setiap kejahatan di dunia.
Penganut Zoroastrian juga melakukan sembahyang sebanyak lima waktu dalam sehari, sama seperti agama islam yang melakukan shalat sebanyak lima waktu dalam sehari, dan hukumnya wajib; hakikatnya bukanlah dalam rangka menyembah Tuhan, melainkan sebagai senjata yang digunakan untuk berperang melawan kejahatan. Zoroastrians memiliki ritual ibadah khusus. Orang lain melihat, menyangka mereka menyembah api. Api berasal dari percikan Ilahi ke dalam jiwa manusia melalui api suci yang terdapat di dalam kuil-kuil, yang sekaligus menjadi tanda kuil milik pengikut Zoroaster.
Bagaimanapun, mereka tidak membakar jenazah orang yang sudah meninggal, sebagaimana yang diketahui orang selama ini. Mereka meninggalkan jenazah di atas bukit datar sebagai “menara kesunyian” atau meletakkan jenazah di tanah gersang tempat burung-burung dan hewan kelaparan akan memangsa jenazah. Lalu mereka akan mengambil sisa-sisa tulang, memasukkannya ke dalam tempat yang dinamakan assuaris.
Di dalam kuil-kuil Zoroastrians, para pendeta selalu menjaga api suci agar jangan sampai padam dengan memberikan api kayu dari pohon buah. Pengikut masuk ke dalam kuil dengan mengenakan topeng-topeng berwarna putih dari bahan linen yang menutupi hidung dan mulut – dengan maksud untuk melindungi api suci dari kontaminasi ‘nafas kotor’ mereka. Mereka mengitari api selama tiga kali dan menyanyikan lagu-lagu dari Kitab Avetsa. Ritual seperti ini dianggap bisa mensucikan mereka.
Saat ini, masih ada yang melakukan ritual Zoroastrian di Uzbekistan, dengan sedikit modifikasi. Segera setelah perayaan pernikahan, mempelai perempuan dibawa ke dalam rumah suami, lau mereka berjalan mengitari api, untuk mensucikan jiwa dan ruh mereka. Hanya setelah melakukan ritual tersebut, mempelai laki-laki menggandeng mempelai perempuan menuju kamar mereka.
Kehidupan sosial Zoroastrian penuh dengan hari-hari besar keagamaan. Yang paling penting adalah perayaan tujuh hari penghormatan tujuh tuhan. Navruz, tahun baru Persia, perayaan paling penting di antara ketujuhnya, diyakini diciptakan oleh Zoroaster. Dirayakan pada hari pertama dari tahun baru - pada saat musim semi. Mensimbolkan awal dari kehidupan baru, ketika kejahatan mulai kembali diperangi dan dunia terbentuk secara ajaib. Karena itulah mengapa hari besar agama ini begitu menyenangkan dan penuh keceriaan, penuh dengan simbol-simbol kelahiran dan harapan baru, serta keberkahan. Saat ini, Navruz masih menjadi hari-hari libur nasional di Uzbekistan.
Zoroaster sendiri bukanlah seorang an outside observer; sebaliknya, ia seorang pengkhutbah yang bersemangat dan banyak menghasilkan puisi. Khutbah-khutbah dan lagu-lagunya termasuk ke dalam kitab suci agama Zoroaster, Avesta. Bagian terawal dari kitab berisikan 21 bab, semacam ensikopledi.
Lahir di Khwarizm, merupakan agama resmi selama 13 abad di Iran, dan hingga abad ke-7 menjadi agama dominan di Asia Tengah dan Timur Tengah.
Pada abad ke 334 SM, Alexander Agung menyerang dan menghancurkan kuil-kuil Zoroastrian, termasuk membantai para pendeta mereka beserta kitab suci Avesta. Setelah masa itu, para pendeta lebih banyak menyampaikan pengajaran secara oral, sehingga pengajaran tidak tersebar luas.
Baru pada abad ke-6 SM, kitab Avesta ditemukan. Ajaran yang disampaikan secara oral, ditambahkan ke dalamnya. Kitab Avesta berisikan 21 bagian yang dibagi menjadi tiga kategori yang tiap kategori berisikan delapan bab. Kategori pertama berisikan himne-himne dan semua teks terkait. Kategori kedu berisikan esai-esai dari para pelajar. Kategori ketiga berisikan risalah-risalah, pengajaran-pengajaran para pendeta dan kumpulan dari hukum dan aturan-aturan.
Pada pertengahan abad ke-7, Dinasti Sassaniyyah diserang oleh bangsa Arab, dan menyebarkan agama Islam, menggoyahkan nasib agama Zoroaster. Kekuasaan dan hak-hak beralih kepada sang pemenang, yaitu orang-orang beragama Islam. Sejumlah besar masyarakat beserta anak-anak tubmbuh dan berkembang di dalam iman yang yang baru, mengajarkan cara-cara beribadah agama Islam, menggantikan ajaran Zoroaster.
Selama seribu tahun, agama Zoroaster tersebar di Khwarizm, Sogdiana, dan Bactria. Di hilir sungai Amu Darta, 3 km dari kota Khojeili, ditemukan sebuah kompleks sejarah yang unik, Mizdakhan, terletak di tiga bukit. Di sebelah timur lautnya, terdapat banyak ruang-ruang untuk assuaris.
Kompleks tersebut kini menjadi sebuah pusat perdagangan dan kerajian tangan di Khwarizm. Salah satu cabang dari Great Silk Road melewati kota ini. Berdasarkan sumber dari legenda lokal, tempat itu merupakan tempat Zoroaster menuliskan baris-baris pertama kitab Avesta. Tidak jauh dari Mizdakhan, berdiri bangunan kuno tempat pemujaan Zoroaster yang dinamakan Chilpik.
10 Maret 2015, Pk. 11.44

  Cara Kerja Instink Reflektif dalam Pembentukan Imajinasi Kreatif (Ru’yah Shalih/ Shadiqh) Refleksi atas C. G. Jung. Bagan saya susun dari ...