Thursday, September 17, 2020

Zoroasterism




 Zoroasterism adalah agama yang muncul sekitar abad 700 – 800 SM, dibawa oleh seorang nabi Persia bernama Zoroaster yang lahir di Khwarizm.

Zoroastrianism mengajarkan, bahwa hanya ada satu Tuhan, yaitu Ahura Mazda, Sang Pencipta segala sesuatunya. Keyakinan dasarnya, bahwa selama hidup, selalu terjadi peperangan antara ruh kebaikan dan ruh kejahatan, dan bumi dijadikan sebagai medan pertempurannya. Setiap orang karenanya harus berusaha untuk memiliki pikiran-pikiran, kata-kata, dan perilaku yang baik. Engkau dinilai atas bagaimana baiknya pertempuran yang membawa kematianmu.
Seperti konsep-konsep yang ada pada banyak agama besar saat ini, Zoroastrianism juga memiliki konsep penciptaan dunia, surga dan neraka, hari-hari suci, hari kiamat, dan hari kebangkitan.
Waktu dan tempat asal Zoroastrianism yang sebenarnya tidak diketahui dengan tepat, bahkan waktu kelahiran dan kematian Nabi Zoroaster, Zarathustra, tidak diketahui. Para sarjana mengira kehidupan Nabi Zarathustra sekitar 8 – 7 SM di Khwarizm.
Zarathustra menikah, memiliki empat anak, menjalankan kemisiannya pada usia 30 tahun, dan meninggal pada usia 77 tahun dengan cara dibunih oleh seorang yang dianggap nabi dalam agama pagan.
Pada abad pertengahan 20, seorang arkeolog dan orientalis Rusia, Sergei Tolstov, meneliti banyak monumen di hulu Amu Darya sejak milenium pertama kelahiran Zoroaster, menyimpulkan, bahwa agama Zoroaster berasal dari Khwarizm kuno. Hingga saat ini di seluruh bumi, ditemukan ada 63 monumen Zoroaster, terdapat di Iran, India, Afghanistan, dan Pakistan. Sebanyak 38 ada di Uzbekistan, dengan 17 monumen berlokasi di Khwarizm (sekarang, Khiva).
Penganut agama Zoroaster meyakini, bahwa Nabi Zarathustra menerima kesempurnaan kebenaran, atau penyingkapan, dari Tuhan itu sendiri.
Zoroaster berkata, bahwa ia menyaksikan Tuhan Akhura Mazda. Beberapa merasakan kehadiran-Nya dan mendengarkan kata-kata-Nya. “Selama Dia berada di dalam kuasaku, aku akan mengajarkan manusia untuk mencari kebenaran.” Zoroaster mengajarkan aturan-aturan hukum, hak dan kewajiban, serta keadilan. Dia menyatakan hanya dirinya yang pernah mewujudkan tuhan yang menciptakan semua kebaikan, termasuk semua dewa kebaikan. Sementara, sebaliknya Tuhan Angra Manyu, yang menciptakan semua keburukan. Tuhan baik dan Tuhan buruk menjadi dua bagian di alam semesta yang menciptakan pasangan bertentangan, menjadi prinsip utama Zoroastrianism dan ide tentang pertempuran antara Kebaikan dan Kejahatan, Kebenaran dan Kebohongan, Cahaya dan Kegelapan.
'Kapan, wahai, Mazda, Kedamaian akan datang beserta Kebenaran dan Kekuatan, membawa kami pada kehidupan yang baik? Siapa yang akan menyelamatkan kami dari haus darah para pengikut Kebohongan? Biarkan para perampok dan pembunuh bertaubat dengan mengikuti aturan tentang kebaikan! Biarkan mereka memberikan kedamaian kepada keluarga mereka!'
Perintah melawan Kejahatan bukan hanya ditujukan untuk kekuatan-kekuatan alam, juga untuk setiap manusia. Nabi Zoroaster katakan, “Setiap manusia adalah ciptaan Tuhan.” Untuk menolong setiap pengikutnya mencapai kesempurnaan moral, Nabi Zoroaster juga merancang sebuah kode moral: hidup bersesuaian dengan pikiran-pikiran baik, kata-kata baik dan perilaku baik.
Berdasarkan filosofi ajaran agamanya, berikut proses dari sejarah terciptanya dunia: Akhura Mazda membuat sesuatu yang bersifat ruhani, lalu mewujud ke dalam dunia immaterial, kemudian memberikan bentuk kepada segala sesuatunya, yaitu sebuah tubuh jasmani. Kemudian mereka mampu menyaksikan dunia dengan semua indera.
Dengan menambahkan unsur materi kepada ruh, maka akan mendatangkan gangguan. Ruh jahat Angra Manyu, termaterikan juga dan menyerang dunia. Air laut dibuatnya menjadi asin, menciptakan gurun-gurun gersang, dan bahkan mencemarkan api suci dengan asap. Singkatnya, menyebabkan adanya efek buruk atau negatif atau bencana pada semua ciptaan Tuhan. Juga, penyebab rendahnya moral dan kelemahan manusia dalam menghadapi penderitaan. Maka, Tuhan memerintahkan kita untuk berperang melawan kejahatan.
Seorang Zoroastrian meyakini, bahwa selama kita hidup sekarang, tak ada yang sebenar baik dan sebaliknya, namun percampuran keduanya. Berdasarkan penyingkapan yang dialami oleh Zoroaster, manusia ditakdirkan untuk berperang melawan kejahatan dan memperbaiki dunia agar berada dalam kondisi sempurna. Kehendak baik akan memisahkan diri dari kejahatan, kejahatan pun akan hancur total. Lalu, laki-laki dan perempuan yang baik akan berada dalam keteraturan dan kedamaian absolut.
Para Zoroastrians meyakini, bahwa bencana terburuk manusia adalah kematian. Zoroaster mengajarkan, bahwa setiap jiwa dan ruh yang meninggalkan tubuh, akan diadili tentang apa-apa yang telah ia lakukan sepanjang hidupnya di dunia. Jiwa pun akan mendapatkan perlakuan sesuai berat timbangan apa yang telah dilakukannya selama di dunia. Semakin baik pikiran-pikiran dan perilakunya, semakin mudah menuju Surga. Jika timbangannya lebih berat kepada kejahatan, jiwa akan ke Neraka, yaitu masa-masa penuh penderitaan, duka cita, makanan buruk, dan penuh kesedihan mendalam.
Tetapi, bahkan di Surga pun, jiwa-jiwa tidak merasakan kesenangan yang sempurna hingga “Sang Dia” datang. Hari Kebangkitan akan menjadi Penghakiman terakhir, saat-saat dipisahkankannya orang-orang yang benar dengan para pendosa. Setiap metal di bumi akan meleleh dan membentuk sebuah aliran sungai. Semua orang harus menyebrangi sungai tersebut. Mereka yang diberkahi akan merasakan berjalan di dalam susu yang segar, sementara pendosa akan berjalan di dalam lelehan metal panas yang akan membawa mereka ke dalam neraka dan menghancurkan Angra Manyu dan setiap kejahatan di dunia.
Penganut Zoroastrian juga melakukan sembahyang sebanyak lima waktu dalam sehari, sama seperti agama islam yang melakukan shalat sebanyak lima waktu dalam sehari, dan hukumnya wajib; hakikatnya bukanlah dalam rangka menyembah Tuhan, melainkan sebagai senjata yang digunakan untuk berperang melawan kejahatan. Zoroastrians memiliki ritual ibadah khusus. Orang lain melihat, menyangka mereka menyembah api. Api berasal dari percikan Ilahi ke dalam jiwa manusia melalui api suci yang terdapat di dalam kuil-kuil, yang sekaligus menjadi tanda kuil milik pengikut Zoroaster.
Bagaimanapun, mereka tidak membakar jenazah orang yang sudah meninggal, sebagaimana yang diketahui orang selama ini. Mereka meninggalkan jenazah di atas bukit datar sebagai “menara kesunyian” atau meletakkan jenazah di tanah gersang tempat burung-burung dan hewan kelaparan akan memangsa jenazah. Lalu mereka akan mengambil sisa-sisa tulang, memasukkannya ke dalam tempat yang dinamakan assuaris.
Di dalam kuil-kuil Zoroastrians, para pendeta selalu menjaga api suci agar jangan sampai padam dengan memberikan api kayu dari pohon buah. Pengikut masuk ke dalam kuil dengan mengenakan topeng-topeng berwarna putih dari bahan linen yang menutupi hidung dan mulut – dengan maksud untuk melindungi api suci dari kontaminasi ‘nafas kotor’ mereka. Mereka mengitari api selama tiga kali dan menyanyikan lagu-lagu dari Kitab Avetsa. Ritual seperti ini dianggap bisa mensucikan mereka.
Saat ini, masih ada yang melakukan ritual Zoroastrian di Uzbekistan, dengan sedikit modifikasi. Segera setelah perayaan pernikahan, mempelai perempuan dibawa ke dalam rumah suami, lau mereka berjalan mengitari api, untuk mensucikan jiwa dan ruh mereka. Hanya setelah melakukan ritual tersebut, mempelai laki-laki menggandeng mempelai perempuan menuju kamar mereka.
Kehidupan sosial Zoroastrian penuh dengan hari-hari besar keagamaan. Yang paling penting adalah perayaan tujuh hari penghormatan tujuh tuhan. Navruz, tahun baru Persia, perayaan paling penting di antara ketujuhnya, diyakini diciptakan oleh Zoroaster. Dirayakan pada hari pertama dari tahun baru - pada saat musim semi. Mensimbolkan awal dari kehidupan baru, ketika kejahatan mulai kembali diperangi dan dunia terbentuk secara ajaib. Karena itulah mengapa hari besar agama ini begitu menyenangkan dan penuh keceriaan, penuh dengan simbol-simbol kelahiran dan harapan baru, serta keberkahan. Saat ini, Navruz masih menjadi hari-hari libur nasional di Uzbekistan.
Zoroaster sendiri bukanlah seorang an outside observer; sebaliknya, ia seorang pengkhutbah yang bersemangat dan banyak menghasilkan puisi. Khutbah-khutbah dan lagu-lagunya termasuk ke dalam kitab suci agama Zoroaster, Avesta. Bagian terawal dari kitab berisikan 21 bab, semacam ensikopledi.
Lahir di Khwarizm, merupakan agama resmi selama 13 abad di Iran, dan hingga abad ke-7 menjadi agama dominan di Asia Tengah dan Timur Tengah.
Pada abad ke 334 SM, Alexander Agung menyerang dan menghancurkan kuil-kuil Zoroastrian, termasuk membantai para pendeta mereka beserta kitab suci Avesta. Setelah masa itu, para pendeta lebih banyak menyampaikan pengajaran secara oral, sehingga pengajaran tidak tersebar luas.
Baru pada abad ke-6 SM, kitab Avesta ditemukan. Ajaran yang disampaikan secara oral, ditambahkan ke dalamnya. Kitab Avesta berisikan 21 bagian yang dibagi menjadi tiga kategori yang tiap kategori berisikan delapan bab. Kategori pertama berisikan himne-himne dan semua teks terkait. Kategori kedu berisikan esai-esai dari para pelajar. Kategori ketiga berisikan risalah-risalah, pengajaran-pengajaran para pendeta dan kumpulan dari hukum dan aturan-aturan.
Pada pertengahan abad ke-7, Dinasti Sassaniyyah diserang oleh bangsa Arab, dan menyebarkan agama Islam, menggoyahkan nasib agama Zoroaster. Kekuasaan dan hak-hak beralih kepada sang pemenang, yaitu orang-orang beragama Islam. Sejumlah besar masyarakat beserta anak-anak tubmbuh dan berkembang di dalam iman yang yang baru, mengajarkan cara-cara beribadah agama Islam, menggantikan ajaran Zoroaster.
Selama seribu tahun, agama Zoroaster tersebar di Khwarizm, Sogdiana, dan Bactria. Di hilir sungai Amu Darta, 3 km dari kota Khojeili, ditemukan sebuah kompleks sejarah yang unik, Mizdakhan, terletak di tiga bukit. Di sebelah timur lautnya, terdapat banyak ruang-ruang untuk assuaris.
Kompleks tersebut kini menjadi sebuah pusat perdagangan dan kerajian tangan di Khwarizm. Salah satu cabang dari Great Silk Road melewati kota ini. Berdasarkan sumber dari legenda lokal, tempat itu merupakan tempat Zoroaster menuliskan baris-baris pertama kitab Avesta. Tidak jauh dari Mizdakhan, berdiri bangunan kuno tempat pemujaan Zoroaster yang dinamakan Chilpik.
10 Maret 2015, Pk. 11.44

No comments:

Post a Comment

  Cara Kerja Instink Reflektif dalam Pembentukan Imajinasi Kreatif (Ru’yah Shalih/ Shadiqh) Refleksi atas C. G. Jung. Bagan saya susun dari ...