Tuesday, October 6, 2020

 Cara Kerja Instink Reflektif dalam Pembentukan Imajinasi Kreatif (Ru’yah Shalih/ Shadiqh)

Refleksi atas C. G. Jung.
Bagan saya susun dari buku Structure and Dynamic of the Psyche-nya Jung. Tambahan penjelasan dari Collected Works Vol. 8 dan dan 18.
Psike adalah sistem yang mengatur dirinya sendiri dengan selalu berupaya menjaga keseimbangannya agar tetap dalam kondisi normal. Dan keberadaannya sepanjang peradaban itu sendiri diwariskan sejak dahulu kala. Terhubung dengan psikis-nya alam. Jadi, sangat terhubung antara psikis manusia dengan psikis alam. Dalam menjalani tugasnya, ia dibantu oleh energi yang dinamakan sebagai energi psikis (libido). Instink ini sendiri memiliki aneka tugas bersesuaian dengan tugasnya pula.
Terkait dengan imajinasi kreatif (recital visionary, ru’yah shalih/ hal, ru’yah shadiq, dll) kalau ada istilah lain), maka sifat instink-nya adalah reflektif. Bersifat reflektif, karena ia merupakan fungsi sadar (conscious) dari instink.
Dalam diri utuh seorang manusia, terdiri dari benih: keturunan (kuno banget (ancient) ntah berasal dari mana tidak/ sulit tertelusuri) baik fisik, psikis, maupun spiritual) + bakat khas secara indivual + dunia (ruang, waktu, peristiwa, dan dengan apa-siapa ia berinteraksi) hingga saat ini. Kesemuanya ini yang lalu membentuk takdirnya.
Nah. Mengapa, dan bagaimana, kok instinct, tapi sadar (conscious)?
Karena, ada sistem endopsychic, yang terkait antara isi-isi kesadaran (consciousness) yang ditanamkan/ diatur oleh ketidaksadaran (arketipe, alam idea).
Sementara itu, ectopsychic adalah sistem yang terkait antara isi-isi kesadaran (consciousness) dan fakta-fakta yang diperoleh di lingkungan fisik/ lahir. Ectopsychic: fisiologis dan inderawi (sensai-persepsi (imajinasi (pembentukan imaji, memori, waham, melibatkan emosi-afeksi, hasrat-keinginan samar - jelas). Kalau kata Paracelcus, dokter-alkemis yang jadi rujukan Jung, bahwa imajinasi dapat menggerakkan organ tubuh menjadi sakit hingga menyembuhkan. Imajinasi pula yang menggerakkan inderawi seseorang mencari lingkungan spesifiknya (misal di gunung: wangi daun cemara, suara angin, terpaan angin, tekstur kulit pohon cemara, warna hijau, dll) yang berbeda dengan orang lainnya. Bagaimana yang dirasakan, penghayatan akan semua itu (bisa jadi berlanjut menjadi hikmah, ibroh, aha erlebnis, dll sejenisnya terkait pengalaman serupa/ sejenis atau yang ada hubungannya dengan sesuatu apa itu) ini yang dinamakan dengan psychic phenomenon.
Nah, sistem ectopsychic yang menikah dengan psychic phenomenon inilah yang dinamakan sebagai psychization. Psychization ini yang menggerakkan/ membuka sistem endopsychic untuk menggerakkan instink yang bersifat reflektif. Instink Reflektif ini yang masuk ke dalam tidur menjadi mimpi/ penglihatan yang benar (ru’yah shalih/ shadiq), pemahaman, ide2/ gagasan2/ insiprasi2 yang kita suka bingung kok bisa muncul mendadak gak jelas rimbanya.
Wallahu a'lam bishowab.

Dwi Afrianti, Rabu, 7 Oktober 2020, 13.59.


 Terdapat beberapa buku karya Imam al-Ghazali (1058-1111 M, Iran) yang menjadi inspirasi bagi Descartes (1596-1650 M, Perancis) dalam menelurkan karya-karyanya.

Descartes adalah filsuf Barat pertama sebagai pembuka zaman modern.

Al-Munqidz min adh-Dhalal (Deliverance of Error = Pembebas dari Kesesatan) karya Imam Ghazali, sebuah kitab yang menjadi inspirasi bagi pemikiran Descartes dalam beberapa bukunya seperti Discourse on the Method for Conducting One's Reason Lightly and dor Searching for Truth in Sciences.
Mottonya yang sangat terkenal, Cogito Ergo Sum = Aku berpikir, maka aku ada. Hal itu dimaksudkan bahwa ia tak pernah berhenti berpikir, karena selalu dipenuhi keraguan yang diakibatkan kebenaran-kebenaran yang ditemuinya tidak pernah mutlak. Selalu ada pada suatu ketika mengalami kesalahan, kekurangan, dan kelemahan. Apakah yang mengakibatkan hal itu? Apa yang salah? Lalu ia menjadikan keraguan demi keraguannnya sebagai pencetus motto Cogito Ergo Sum itu sebagai landasan bagi filsafatnya.
Ia juga menyatakan, bahwa terdapat entitas lain selain badan yang tampak ini. Ada sesuatu yang lain yang berbeda, yang bisa menjangkau kebenaran mutlak. Mind, itulah. Dan tak ada lain pemberi inspirasi kepada Mind itu selain Tuhan.
Buku Descartes yang lain, Meditations on First Philosophy, mendetilkan persoalan di atas dengan pembahasan tentang substansi materi, self, dan Tuhan. Hal tersebut memunculkan gagasan tentang metode dalam pencari kebenaran yang dimulai dengan keraguan dan skeptisisme, dualisme (perbedaan ilmu akal dengan Mind (akal dengan tidak lebih tinggi: akal hati), dan Tuhan.
Ia juga terpengaruh oleh buku Revival of Religious Sciences (Ihya 'Ulumuddiin) dan Kimiyatus Sa'adat Imam al-Ghazali yang membagi empat jenis pengetahuan, yaitu pengetahuan akan diri, pengetahuan akan Tuhan, pengetahuan akan dunia fisik, dan hari akhir.
"But perhaps even though the senses do sometimes deceive us when it is a question of very small and distant things." (Meditations on First Philosophy).
Menjadi menarik. Ketika Descartes berbicara tentang kaitan kebenaran mutlak (ilmu) dengan agama (ada entitas lebih tinggi yang memperoleh kebenaran), lalu mengapa yang diambil Barat hanya persoalan metode ilmiahnya saja?
Sama menariknya ketika sebagian ilmuwan Barat Modern juga mempelajari aneka keilmuwan Muslim klasik-pertengahan yang tidak memisahkan agama dan ilmu, tapi kenapa yang diambil hanya bagian metode ilmiahnya saja?
Sama halnya dengan sebagian orang Islam yang juga tidak sepenuhnya memahami apa maksud sebenarnya dari kaitan antara agama dengan sains.
Menurut Imam al-Ghazali, Agama (ad-Diin) itu holistik, terdiri dari islam, iman, dan ihsan. Iman pun terdiri dari tingkatan: level awami, mutakalimin, dan 'arifin. Jadi, untuk sebenar memahaminya, butuh merasa bahwa mengintegrasikan ketiga aspek ad-Diin tersebut adalah sesuatu yang esensial, sehingga merasa butuh untuk mempelajarinya. Sehingga akan mampu memahami kepentingan kaitan antara agama dan sains.

Dwi Afrianti, 3 November 2018.






















Kaca Mata Berbeda dalam Memandang Descartes (Perancis, 1596-1650 M)
Terdapat beberapa buku karya Imam al-Ghazali (1058-1111 M, Iran) yang menjadi inspirasi bagi Descartes (1596-1650 M, Perancis) dalam menelurkan karya-karyanya. Descartes adalah filsuf Barat pertama, yang dikatakan sebagai pembuka zaman modern, karenanya ia mendapatkan julukan sebagai Bapak Filsafat Modern.
Buku "Al-Munqidz min adh-Dhalal" (Deliverance of Error = Pembebas dari Kesesatan) karya Imam Ghazali, sebuah kitab yang menjadi inspirasi bagi pemikiran Descartes dalam beberapa bukunya seperti "Discourse on the Method for Conducting One's Reason Lightly and Searching for Truth in Sciences".
Descartes menyatakan, bahwa tidak ada yang pasti, selain pengetahuan yang berasal dari Sang Ilahi. Begitulah kehidupan harus dijalani, mendapati keputusan-keputusan yang berdasarkan pengetahuan Ilahi. Hal itu sangat besar, tidak akan dapat ditemukan di dalam buku-buku.
"Aku selalu mempunyai keinginan kuat untuk mempelajari bagaimana membedakan yang benar dari yang salah, supaya terlihat jelas bagaimana seharusnya aku bertindak dan bisa berkelana dengan keyakinan melalui hidup ini. Sejak kecil aku hidup di dunia buku dan aku sangat bersemangat untuk belajar dari buku-buku. Tetapi, segera setelah aku menyelesaikan pembelajaran, aku mendapati diriku terbebani berbagai keraguan dan kesalahan yang tampaknya aku tak mendapat apa-apa. Meski begitu, aku telah berada di salah satu sekolah paling terkenal di seluruh Eropa," begitulah kata Descartes dalam buku "Meditations on First Philosophy" yang menjadi inspirasi bagi terbukanya pemikiran tentang sains modern, padahal isinya tentang Metafisika (al-'ilm al-Ilahiyah kalau istilah di dalam Islam).
"Quad vitae sektabor iter?" Hidup apa yang kau ikuti?
Begitulah salah satu kalimat dari sebuah puisi di antara setumpukan kertas yang digamit dalam mimpi ketiganya.
Pada suatu hari Descartes bermimpi sebanyak 3x dalam satu kali keadaan tidur-bangun. Mimpi tersambung.
Dan pertanyaan itu dijawabnya dengan, "Cogito ergo sum." Aku berpikir, maka aku ada. Jawaban itu diperolehnya karena Descartes senantiasa berada di dalam keraguan akan sesuatu persoalan; mengapa tak pernah berada dalam kebenaran mutlak?
Mottonya “Cogito ergo Sum” nya yang sangat terkenal itu, dimaksudkan bahwa ia tak pernah berhenti berpikir, karena selalu dipenuhi keraguan yang diakibatkan kebenaran-kebenaran yang ditemuinya tidak pernah mutlak. Selalu ada pada suatu ketika mengalami kesalahan, kekurangan, dan kelemahan. Apakah yang mengakibatkan hal itu? Apa yang salah? Semua orang bahkan berbeda pendapat dalam menghadapi satu persoalan yang sama. Lalu ia menjadikan keraguan demi keraguannnya sebagai pencetus motto Cogito Ergo Sum itu sebagai landasan bagi filsafatnya.
Ia juga menyatakan, bahwa terdapat entitas lain selain badan yang tampak ini. Ada sesuatu yang lain yang berbeda, yang bisa menjangkau kebenaran mutlak. Mind, itulah. Dan tak ada lain pemberi inspirasi kepada Mind itu selain Tuhan. Apakah Mind di sini sama dengan akal hati atau nafs (jiwa) yang telah memiliki akal?
Buku Descartes yang lain, Meditations on First Philosophy, mendetilkan persoalan di atas dengan pembahasan tentang substansi materi, self, dan Tuhan. Hal tersebut memunculkan gagasan tentang metode dalam pencari kebenaran yang dimulai dengan keraguan dan skeptisisme, dualisme (perbedaan ilmu akal dengan Mind (akal dengan tidak lebih tinggi: akal hati), dan Tuhan.
Ia juga terpengaruh oleh buku Revival of Religious Sciences (Ihya 'Ulumuddiin) dan Kimiyatus Sa'adat Imam al-Ghazali yang membagi empat jenis pengetahuan, yaitu pengetahuan akan diri, pengetahuan akan Tuhan, pengetahuan akan dunia fisik, dan hari akhir.
"But perhaps even though the senses do sometimes deceive us when it is a question of very small and distant things." (Meditations on First Philosophy).
Menjadi menarik. Ketika Descartes berbicara tentang kaitan kebenaran mutlak (ilmu) dengan agama (ada entitas lebih tinggi yang memperoleh kebenaran), lalu mengapa yang diambil Barat hanya persoalan metode ilmiahnya saja, sehingga begini sekarang bentuk keilmuwan Barat? Padahal epistemologi yang ditawarkan oleh Descartes, terkait dengan perolehan ilmu oleh jiwa.
Sama menariknya ketika sebagian ilmuwan Barat Modern juga mempelajari aneka keilmuwan Muslim klasik-pertengahan yang tidak memisahkan agama dan ilmu, tapi kenapa yang diambil hanya bagian metode ilmiahnya saja?
Sama halnya dengan sebagian orang Islam yang juga tidak sepenuhnya memahami apa maksud sebenarnya dari kaitan antara agama dengan sains.

Dwi Afrianti, 28 Mei 2019












Nambahin maksud Descartes (Perancis, 1596 - 1650 ) dengan pemikiran C. G. Jung (Swiss, 1875 - 1961 M):
"Pemikiran seorang spesialis adalah pemikiran yang sepenuhnya maskulin; intelektualitas yang prosesnya asing dan tidak alami. Pemikiran yang integratif, memiiki sifat feminin; ia diberkahi dengan suatu rahim yang reseptif dan bermanfaat yang bisa mengkonstruk ulang sesuatu yang asing dan memberikannya bentuk familiar bagi masyarakat umum sekalipun.
Universitas-universitas telah berhenti bertindak sebagai para penyebar cahaya. Orang-orang lelah dengan spesialisasi, rasionalisme, dan intelektualisme saintifik. Mereka sebenarnya ingin mendengarkan kebenaran-kebenaran yang diperluas dan bukannya dibatasi, yang tidak mengaburkan melainkan menerangi, yang tidak melewati mereka seperti air lalu berlalu begitu saja, melainkan menyelusup hingga ke sumsum. Pencarian ini hanya mungkin membawa hasil yang besar jika kita merasa terus tersesat, karenanya terus mencari."
- C. G. Jung, The Spirit in Man, Art, and Literature -
Artinya: orang harus terus belajar hingga menemukan hikmah terbaiknya.



 Kedudukan Dialektika (diskusi dengan merenung) di dalam Debat (Jadaal, Berbantah) dan Diskusi (Syuroo, Musyawarah)

Sekedar untuk mengidentifikasi diri ketika sedang ‘ngobrol’. Kita masuk ke dalam kategori sedang berdebat (jadaal) atau berdiskusi (syuroo)?
Karena kalau sedang berdebat, segera tinggalkan.
Rasulullaah Saw. bersabda, “Aku berikan jaminan rumah di dasar surga bagi orang yang meninggalkan debat (jaadal) meskipun dia berada dipihak yang benar. Dan aku menjaminkan sebuah rumah di tengah surga bagi orang yang meninggalkan dusta meskipun dalam keadaan bercanda. Dan aku akan menjamin sebuah rumah dibagian teratas surga bagi orang yang membaguskan akhlaknya.” (HR. Abu Dawud)
Rasulullah Saw., “Sesungguhnya orang yang paling dimurkai oleh Allah ialah orang yang selalu mendebat.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Allah berfirman, Swt. “Serulah(manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah (jaadal) mereka dengan cara yang baik.” (QS. an-Nahl [16] : 125)
Lalu, apakah yang dimaksudkan dengan diskusi atau musyawarah? Di dalam al-Quran, terdapat satu surat yang diberi nama dengan asy-Syuroo [42] (musyawarah). Berdiskusi atau bermusyawarah menjadi salah satu dari dasar-dasar pemerintahan Islam. Keberadaannya termaktub di sila keempat dari Pancasila, yaitu Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan.
Nah, sekarang, apakah yang dimaksud dengan Dialektika?
Dua orang yang sedang melakukan percakapan, keduanya memiliki dua pemikiran yang berbeda. Masing-masing memiliki tesis. Di sini subjek “Aku (being)” dikedepankan. Ketika sedang ngobrol, apakah masing-masingnya mengalami pengolahan pemikiran lawan bicaranya, dan juga mengolah kembali pemikiran sendiri, sehingga terjadi antitesis? Masing-masing “Aku” sedang mencari kesetimbangan (becoming). Lalu selanjutnya, adakah kedua pemikiran saling berkolaborasi yang lalu membentuk kesatuan; pengurangan penambahan ide/ gagasan, sehingga terbentuk suatu sintesa? Di sini “Aku” sudah hilang, melebur bersama “Aku” yang lain menjadi “Kami”, sehingga “Aku” menjadi nothing.
Lalu, apa hubungannya antara debat, dialektika, dan diskusi?
Keberadaan dialektika menjadi ukuran dari apakah suatu pembicaraan itu masuk kepada debat atau diskusi.
Debat tak ada dialektika (perenungan), baik merenungi (tafakur) pemikiran orang lain maupun pemikiran sendiri. Dalam merenungi pemikiran orang, pasti juga melibatkan interaksi dengan pemikiran sendiri. Di sini tak ada proses pembelajaran.
Sebaliknya pada diskusi. Ada pembelajaran di sini. Ada saling konfirmasi pemikiran. Ada pemikiran baru yg saling berkolaborasi dengan yang lama.
Jadi ketika kita sedang ngobrol terjadi dialektika, maka lanjutkan obrolannya.
Ya, berdialektika telah menjadi persyaratan dari terbentuknya sebuah jalur transmisi keilmuan sejak Mesoptamia, Babilonia, Mesir, India, Cina, Yunani, Persia, Yahudi, Kristen, Zoroaster, sampai ke Muslim, hingga di masa modern ini, yang membentuk sebuah peradaban besar. Baik berdialektika dengan diri sendiri maupun orang lain.
Diagram diambil dari Hegel.




  Cara Kerja Instink Reflektif dalam Pembentukan Imajinasi Kreatif (Ru’yah Shalih/ Shadiqh) Refleksi atas C. G. Jung. Bagan saya susun dari ...