Cara Kerja Instink Reflektif dalam Pembentukan Imajinasi Kreatif (Ru’yah Shalih/ Shadiqh)
Refleksi atas C. G. Jung.
Bagan saya susun dari buku Structure and Dynamic of the Psyche-nya Jung. Tambahan penjelasan dari Collected Works Vol. 8 dan dan 18.
Psike adalah sistem yang mengatur dirinya sendiri dengan selalu berupaya menjaga keseimbangannya agar tetap dalam kondisi normal. Dan keberadaannya sepanjang peradaban itu sendiri diwariskan sejak dahulu kala. Terhubung dengan psikis-nya alam. Jadi, sangat terhubung antara psikis manusia dengan psikis alam. Dalam menjalani tugasnya, ia dibantu oleh energi yang dinamakan sebagai energi psikis (libido). Instink ini sendiri memiliki aneka tugas bersesuaian dengan tugasnya pula.
Terkait dengan imajinasi kreatif (recital visionary, ru’yah shalih/ hal, ru’yah shadiq, dll) kalau ada istilah lain), maka sifat instink-nya adalah reflektif. Bersifat reflektif, karena ia merupakan fungsi sadar (conscious) dari instink.
Dalam diri utuh seorang manusia, terdiri dari benih: keturunan (kuno banget (ancient) ntah berasal dari mana tidak/ sulit tertelusuri) baik fisik, psikis, maupun spiritual) + bakat khas secara indivual + dunia (ruang, waktu, peristiwa, dan dengan apa-siapa ia berinteraksi) hingga saat ini. Kesemuanya ini yang lalu membentuk takdirnya.
Nah. Mengapa, dan bagaimana, kok instinct, tapi sadar (conscious)?
Karena, ada sistem endopsychic, yang terkait antara isi-isi kesadaran (consciousness) yang ditanamkan/ diatur oleh ketidaksadaran (arketipe, alam idea).
Sementara itu, ectopsychic adalah sistem yang terkait antara isi-isi kesadaran (consciousness) dan fakta-fakta yang diperoleh di lingkungan fisik/ lahir. Ectopsychic: fisiologis dan inderawi (sensai-persepsi (imajinasi (pembentukan imaji, memori, waham, melibatkan emosi-afeksi, hasrat-keinginan samar - jelas). Kalau kata Paracelcus, dokter-alkemis yang jadi rujukan Jung, bahwa imajinasi dapat menggerakkan organ tubuh menjadi sakit hingga menyembuhkan. Imajinasi pula yang menggerakkan inderawi seseorang mencari lingkungan spesifiknya (misal di gunung: wangi daun cemara, suara angin, terpaan angin, tekstur kulit pohon cemara, warna hijau, dll) yang berbeda dengan orang lainnya. Bagaimana yang dirasakan, penghayatan akan semua itu (bisa jadi berlanjut menjadi hikmah, ibroh, aha erlebnis, dll sejenisnya terkait pengalaman serupa/ sejenis atau yang ada hubungannya dengan sesuatu apa itu) ini yang dinamakan dengan psychic phenomenon.
Nah, sistem ectopsychic yang menikah dengan psychic phenomenon inilah yang dinamakan sebagai psychization. Psychization ini yang menggerakkan/ membuka sistem endopsychic untuk menggerakkan instink yang bersifat reflektif. Instink Reflektif ini yang masuk ke dalam tidur menjadi mimpi/ penglihatan yang benar (ru’yah shalih/ shadiq), pemahaman, ide2/ gagasan2/ insiprasi2 yang kita suka bingung kok bisa muncul mendadak gak jelas rimbanya.
Wallahu a'lam bishowab.
Dwi Afrianti, Rabu, 7 Oktober 2020, 13.59.