Tuesday, October 6, 2020

Kaca Mata Berbeda dalam Memandang Descartes (Perancis, 1596-1650 M)
Terdapat beberapa buku karya Imam al-Ghazali (1058-1111 M, Iran) yang menjadi inspirasi bagi Descartes (1596-1650 M, Perancis) dalam menelurkan karya-karyanya. Descartes adalah filsuf Barat pertama, yang dikatakan sebagai pembuka zaman modern, karenanya ia mendapatkan julukan sebagai Bapak Filsafat Modern.
Buku "Al-Munqidz min adh-Dhalal" (Deliverance of Error = Pembebas dari Kesesatan) karya Imam Ghazali, sebuah kitab yang menjadi inspirasi bagi pemikiran Descartes dalam beberapa bukunya seperti "Discourse on the Method for Conducting One's Reason Lightly and Searching for Truth in Sciences".
Descartes menyatakan, bahwa tidak ada yang pasti, selain pengetahuan yang berasal dari Sang Ilahi. Begitulah kehidupan harus dijalani, mendapati keputusan-keputusan yang berdasarkan pengetahuan Ilahi. Hal itu sangat besar, tidak akan dapat ditemukan di dalam buku-buku.
"Aku selalu mempunyai keinginan kuat untuk mempelajari bagaimana membedakan yang benar dari yang salah, supaya terlihat jelas bagaimana seharusnya aku bertindak dan bisa berkelana dengan keyakinan melalui hidup ini. Sejak kecil aku hidup di dunia buku dan aku sangat bersemangat untuk belajar dari buku-buku. Tetapi, segera setelah aku menyelesaikan pembelajaran, aku mendapati diriku terbebani berbagai keraguan dan kesalahan yang tampaknya aku tak mendapat apa-apa. Meski begitu, aku telah berada di salah satu sekolah paling terkenal di seluruh Eropa," begitulah kata Descartes dalam buku "Meditations on First Philosophy" yang menjadi inspirasi bagi terbukanya pemikiran tentang sains modern, padahal isinya tentang Metafisika (al-'ilm al-Ilahiyah kalau istilah di dalam Islam).
"Quad vitae sektabor iter?" Hidup apa yang kau ikuti?
Begitulah salah satu kalimat dari sebuah puisi di antara setumpukan kertas yang digamit dalam mimpi ketiganya.
Pada suatu hari Descartes bermimpi sebanyak 3x dalam satu kali keadaan tidur-bangun. Mimpi tersambung.
Dan pertanyaan itu dijawabnya dengan, "Cogito ergo sum." Aku berpikir, maka aku ada. Jawaban itu diperolehnya karena Descartes senantiasa berada di dalam keraguan akan sesuatu persoalan; mengapa tak pernah berada dalam kebenaran mutlak?
Mottonya “Cogito ergo Sum” nya yang sangat terkenal itu, dimaksudkan bahwa ia tak pernah berhenti berpikir, karena selalu dipenuhi keraguan yang diakibatkan kebenaran-kebenaran yang ditemuinya tidak pernah mutlak. Selalu ada pada suatu ketika mengalami kesalahan, kekurangan, dan kelemahan. Apakah yang mengakibatkan hal itu? Apa yang salah? Semua orang bahkan berbeda pendapat dalam menghadapi satu persoalan yang sama. Lalu ia menjadikan keraguan demi keraguannnya sebagai pencetus motto Cogito Ergo Sum itu sebagai landasan bagi filsafatnya.
Ia juga menyatakan, bahwa terdapat entitas lain selain badan yang tampak ini. Ada sesuatu yang lain yang berbeda, yang bisa menjangkau kebenaran mutlak. Mind, itulah. Dan tak ada lain pemberi inspirasi kepada Mind itu selain Tuhan. Apakah Mind di sini sama dengan akal hati atau nafs (jiwa) yang telah memiliki akal?
Buku Descartes yang lain, Meditations on First Philosophy, mendetilkan persoalan di atas dengan pembahasan tentang substansi materi, self, dan Tuhan. Hal tersebut memunculkan gagasan tentang metode dalam pencari kebenaran yang dimulai dengan keraguan dan skeptisisme, dualisme (perbedaan ilmu akal dengan Mind (akal dengan tidak lebih tinggi: akal hati), dan Tuhan.
Ia juga terpengaruh oleh buku Revival of Religious Sciences (Ihya 'Ulumuddiin) dan Kimiyatus Sa'adat Imam al-Ghazali yang membagi empat jenis pengetahuan, yaitu pengetahuan akan diri, pengetahuan akan Tuhan, pengetahuan akan dunia fisik, dan hari akhir.
"But perhaps even though the senses do sometimes deceive us when it is a question of very small and distant things." (Meditations on First Philosophy).
Menjadi menarik. Ketika Descartes berbicara tentang kaitan kebenaran mutlak (ilmu) dengan agama (ada entitas lebih tinggi yang memperoleh kebenaran), lalu mengapa yang diambil Barat hanya persoalan metode ilmiahnya saja, sehingga begini sekarang bentuk keilmuwan Barat? Padahal epistemologi yang ditawarkan oleh Descartes, terkait dengan perolehan ilmu oleh jiwa.
Sama menariknya ketika sebagian ilmuwan Barat Modern juga mempelajari aneka keilmuwan Muslim klasik-pertengahan yang tidak memisahkan agama dan ilmu, tapi kenapa yang diambil hanya bagian metode ilmiahnya saja?
Sama halnya dengan sebagian orang Islam yang juga tidak sepenuhnya memahami apa maksud sebenarnya dari kaitan antara agama dengan sains.

Dwi Afrianti, 28 Mei 2019












No comments:

Post a Comment

  Cara Kerja Instink Reflektif dalam Pembentukan Imajinasi Kreatif (Ru’yah Shalih/ Shadiqh) Refleksi atas C. G. Jung. Bagan saya susun dari ...